Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Juli 2011

Untuk seseorang

Aku terkekang, di rantai indah lakumu, saat hampir mati hatiku.
Bibirku tak ingin akui semua, tetapi hati berkata aku milikmu sepenuhnya..
Cahayamu terangi hari-hari suramku..
Telah kau ketahui semua, meski tak kau beri arti..
Tapi saat aku masih berdiri di dkatmu..
Akan kuyakinkan dirimu..
Tak akan ku kecewakanmu dan akan slalu buatmu bahagia..
Karena, hati ini sulit berpaling rasa lagi, karna indahmu. .

seandainya

Demi nama tuhan yang selalu memberi rahmat kepada kita, meskipun tangan-tangan kita tak pernah berhenti hancurkan bumi-Nya..
Tak pernah berhenti membuat dosa di atas dunia-Nya..
Demi satu tujuan yang fana..
Nafsu manusia yang tak berbatas..

Demi burung-burung yang menari indah di langit, demi hutan-hutan yang sejukkan dunia kita, dan demi semua mahkluk-Nya yang bernyawa..

Andai,
tetes hujan tak bisa lagi berikan kehidupan..
Tak terdengar lagi suara liar rimba..
Dan petak tanah terakhir tak bisa menghijau lagi..
Dan semua yang dulu pernah ada hanya menjadi sebuah sejarah..

Terpuaskankah nafsumu?
Kurasa tidak akan..
Atas nama tuhan yang maha pemurah kepada mahluknya, yang salah gunakan kemurahannya..

1 juli 2009 - 03.13

ketika semua telah berakhir..
tak ada lagi yang bisa kita terima..
logika dan semua kenyataan yang telah lama ada..
semua yang kunyatakan hanya untuk di dengar..
dan semua yang kulakukan hanya sebuah dosa bagimu..
apakah kau masih mau menjabat tangan ini?
masih mau memandang wajah yang penuh rasa iba ini?

perasaan yang ada dari hati bukanlah suatu kedustaan..
bukan seperti suara yang keluar dari bibir yang selalu manis..
apakah semua harus berakhir seperti cermin yang dihempaskan ke tanah?
apakah semua musti menghilang seperti buih-buih yang di pecah ombak samudra?
setelah kita lihat bersama bunga-bunga yang tumbuh di savana kita?
setelah kita tandai bintang-bintang kita dengan atas nama cinta?

seakan bumiku telah hilang jauh,
jika bagimu hidupku adalah sebuah noda di dalam kanvas hidupmu..
jika bagimu aku hanya duri yang sayat dinding jantungmu..
jika semua kata-kata maafku tak bisa runtuhkan murkamu..
apakah dengan lenyapku kau akan bahagia?

ku tak akan pernah tahu bagaimana sebaiknya..
ku tak akan pernah tahu bagaimana seharusnya..
aku tidak akan pernah tahu...

pusi tengah malam

Dan yang tertanam di relung hati dan tak akan hilang, saat surya menyambut..
Bayangkan sang fajar membekuk hatiku yang telah lama mati..
Disaat harus kembali, aku menghilang.
Disaat harus pergi, aku berteriak memaki..
Sebuah kenangan untuk hidup yang semakin pahit..
Dengan cobaan-cobaannya yang makin kejam..
Dan yang menghilang, harus menghilang.. Tak akan kembali.. Meski senja kembali datang lagi.. Luka yang tak terperi ini kan kurasa hingga mati..

bebas terbang dan lepas

Aku = Elang

oleh Angga 'Aga' Prihatin pada 14 Oktober 2009 jam 8:16
Aku ingin menjadi elang, terbang tinggi menembus awan..
Melekuk dan menari indah diantara awan-awan jingga..

Melayang menerjang badai hingga sayapku basah dan merapuh..

Merapuh dirasuki racun yang diberi dari kehidupan yang kejam..
Kekejaman tangan para manusia..

Aku ingin menjadi elang, terbang tinggi dan merasakan hangatnya mentari dan kadang dinginnya angin..

Belajar tentang arti hidup, belajar tentang kehidupan, belajar tentang artinya cobaan..

Aku ingin menjadi elang,
mengepak dan terus mengepak hingga sayap ini remuk dan hancur di makan tanah..

Aku ingin menjadi elang..
Terbang bebas di duniaku..
Tanpa ada satupun orang yang menahan sayap ini untuk menuju kebebasanku.

setangkai bunga untukku

Sebuah bunga, yang tumbuh di ladang rumput putih..
Yang tak tersentuh karena dinding2 tinggi melindunginya..
Aku berdoa.. Agar prahara tak pernah menyetuhnya, menghancurkan tembok yang melindunginya..
Agar tak rusak kelopak-kelopaknya..
Biarlah menjadi seperti biasa..
Disinari lembut cahaya mentari..
Dibelai lembut oleh semilir angin..
Biarlah menjadi seperti apa adanya..
Wangi khasnya, sederhana rupanya..
Dan semangat hidup yang diberikan kepada orang2 yang memandangnya..

Apa bila tiba waktunya.. Aku berharap dapat membuka dinding itu..
Memetik bunga itu, dan memasukkan wanginya ke dalam hatiku.. Menjadikan tangkainya sebagai sandaran jiwa.. Dan kelopaknya sebagai pelindung egoku..
Semoga..

Prahara

Senja merekah menabur hujan..
Meniti langit menggelap..
Di bawah payung prahara nan kelabu..
Menunduk..
Menangis..

Sedu sedan tangis cinta..
dikekang gelap, terpenggal nadi waktumu..
Tak kan bisa melepas asa..
Karna tertutup mata oleh lengan laknatnya..

Mata sang yang tercabik prahara,
terkikis lelehan air mata candu..
Hanya karena simpati hati,
berantai dosa menanggungnya..

Kegelapan oh, kegelapan..
Jika prahara datang kembali esok malam, kuserahkan raga ku ke bumi, biar dimakan cacing-cacing..
Dari yang debu, menjadi debu..
Dari tanah menjadi tanah..
Kata-nya Bagai simphony Mengalun lembut..Mengalun lembut..

A poem for the lotus

Kau..
Kau yang ikat mataku dengan kekang lembut lakumu..
Taburkan racun-racun hati yang tumbuhkan sebuah perasaan..
Dipupuk rasa rindu dan cinta yang lama terpendam..
Tumbuh dan menjadi penyakit yang gerogoti hati dan jiwaku..

Kau..
Tanpa sadar menata hidupku yang telah hancur..
Yang berserakan dan tercampak di dinding kamar..
Telah kering dan menjadi abu terbakar karena kesalahanku..
Yang dibanting badai hingga remuk dan retak..

Disini, di bawah langit biru..
Menanti senja datang..
Menanti awan kelabu yang terus menatap laknat kepadaku..
Menanti kembali lembut hangatnya mentari yang bakar hatiku..

Kau, yang tatapku dengan senyum wajah polosmu..
Aku, yang menatap nanar dan muram padamu..
Kau, yang ajarkan aku arti hidup..
Aku, yang tak perduli dan tak mau tahu tentang kehidupan..
Kau, susupkan ke hatiku sebuah cinta disetiap kata-kata cintamu..
Aku, tampik itu semua.. Berjalan angkuh menatap ke langit..
Kau, berusaha hangatkan hariku dengan senyummu..
Aku, dengan dinginku menutup mata atas itu semua..

Kebodohan yang kututup dengan keegoisan..
Kebobrokan ya ku selimuti dengan tameng keangkuhan..
Tapi matamu..
Menembus hatiku..
Berikan rasa sakit yang tak pernah kumengerti..
Perlahan dan tumbuh..
Merekah dan mewangi..
Terus mewangi..
Membalut luka luka hati..

Tanpa sadar aku telah tenggelam di telagamu..
Tak bernafas oleh wangimu..
Tak bergerak karna kau pegang lembut lenganku..
Lumpuh olehmu..

Dan masih di bawah langit biru ini..
Berharap langkahku selaras dengan hatimu...
Terus berharap.. Dan berharap..

suara dari yang tak didengar

Mari bicara tentang kekuasaan
Tentang manisnya sebuah kesewenangan
Cerita tentang ambisi dan realita pahitnya kehidupan

Cerita tentang mereka yang berdiri menginjak saudara mereka
Mereka yang menutup mata dan telinga dari jeritan kepedihan saudara mereka
Mereka yang mengingkari janji dan amanah saudara mereka
Mereka yang terbuai kemewahan dan tak puas dengan nikmat yang ada

Hari ini aku melihat kepedihan teramat dari mereka yang terlupakan
Mereka yang pernah dibuai janji yang tak pasti
Mereka yang dulu percaya, dan kini hanya bisa menggerutu memaki
Mereka yang tak terangkat derajatnya
Mereka yang terus menderita karena percaya kepada yang tak bermoral

Tuhan tidak buta, saudaraku
Tuhan melihat apa yang kau lakukan
Tuhan tidak lupa, saudaraku
Tuhan ingat janji yang kau berikan
Tuhan maha mengetahui saudaraku
dosa-dosa kalian, tipu daya kalian, pengkhianatan kalian pada saudara-saudara kalian...